[MOVIE REVIEW] Magic Hour

Pernah menemukan dong judul filmnya apa, tapi judul tersebut tidak menjadi fokus cerita dari film tersebut. Film Magic Hour termasuk didalamnya, tapi apakah hal itu bikin film ini jelek? Let’s find out!

magichour

STORYLINE :

Raina, seorang remaja yang bekerja di sebuah toko bunga milik tantenya, mengalami hari yang kurang beruntung. Saat mengantarkan bunga, dia ditabrak mobil. Beruntung si pemilik mobil bertanggung jawab dan membawanya ke rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, Raina yang tinggal bersama tante dan saudara angkatnya, mendapat tugas dari Gweny, saudara angkatnya. Gweny meminta Raina untuk menggantikannya bertemu dengan seorang pria yang dijodohkan dengannya. Raina sebenarnya ragu-ragu untuk melakukannya, tapi ya tetap dilakukan. Belakangan, Raina malah pacaran dengan Dimas, nama pria tersebut. Padahal di sisi lain, ada Toby, sahabat Raina yang sebenarnya sudah lama memendam perasaan pada Raina. Bagaimanakah hubungan Toby – Raina – Dimas – Gweny? Temukan jawabannya dalam Magic Hour.

TRAILER :

REVIEW :

Well, saya suka film ini. Kalau ada yang menganggap film ini sekelas FTV, saya nggak setuju. Film ini ada level atasnya. Memang tidak sempurna, ada yang secara logika gak make sense, ada yang part yang ceritanya gantung, tapi ya it’s okay. Film ini sukses fokus di 2 karakter utamanya, Raina dan Dimas. Untuk menambah konflik cerita, muncul karakter Toby dan Gweny. Cerita di film ini sebenarnya banyak. Toby-Raina, Dimas-Raina, Raina-Gweny, Toby-Anisa, Gweny-Toby, dll. Bahkan ada semacam kejutan di akhir cerita. Dan seperti yang saya bilang, Magic Hour yang jadi judul film ini bukan jadi fokus cerita, hanya sebagai setting dan beberapa kali disebut sebagai salah satu hal favorit Raina. Tapi itu termaafkan. Dan harus saya akui, akting Michelle Ziudith semakin baik. Di film sebelumnya, Remember When, dia sudah tampil baik. Dan di film ini sebagai Raina, Michelle berhasil menghidupkan karakter Raina yang seorang gadis adopsi, ABG yang masih labil tapi punya daya juang tinggi. Good job, Michelle. Agak mengingatkan saya dengan karakter Acha Septriasa di film Heart, tapi Michelle is the better version. Bisa saya bilang, akting Michelle di film ini menyelamatkan film ini. Ya. Film ini layak ditonton. 3,5 of 5 stars.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

+ 58 = 64