[MOVIE REVIEW] Hasduk Berpola

Film ini sudah cukup santer (di sosial media) sejak tahun 2012 dan akhirnya di caturwulan pertama di 2013, film ini tayang di bioskop. Dalam promonya, bahkan di poster yang dipasang di bioskop, film bertema nasionalisme ini menjanjikan adegan penutup yang menggetarkan sisi nasionalisme. We’ll see…

STORYLINE :

Masnun dulunya adalah seorang pejuang tahun 1945 yang mendapat mandat dari temannya yang tewas tertembak untuk mengibarkan bendera merah putih di atas Hotel Orange. Sayangnya Masnun tidak berhasil memenuhi mandat tersebut, bahkan hingga sekarang dia sudah berusia senja. Saat ini Masnun tinggal bersama anak perempuan dan kedua cucunya (Budi dan Bening). Di sekolah, Budi dikenal sebagai anak yang bandel. Dengan sebuah alasan, Budi bergabung dalam kelompok pramuka sekolahnya. Namun karena keterbatasan biaya, Budi tidak punya beberapa perlengkapan pramuka seperti topi baret dan hasduk (dasi pramuka). Salah seorang teman yang dia benci menawarkan bantuan tapi dia menolak. Padahal dia akan mengikuti jambore. Adiknya pun berinisiatif membuat hasduk dari sprei-nya. Jadilah sebuah hasduk berpola. Saat hendak berangkat jambore, rupanya Budi menyiapkan sebuah rencana. Apa rencananya? Seperti apa bentuk hasduk berpola milik Budi? Saksikan Hasduk Berpola di bioskop!

REVIEW :

Dengan materi yang saya miliki (nonton trailer, baca sinopsis, promo-promo yang dilakukan film ini) tampaknya saya berharap banyak dengan film ini. Ada beberapa detail yang membuat justru membuat saya terganggu. Misal : pekerjaan Masnun saat ini. Di awal film ada adegan Masnun mengangkat jerigen-jerigen entah dari tambang apa, tapi di adegan berikutnya, Masnun diceritakan menjadi tukang tambal ban. Dan adegan Masnun bermain biola, hmmmm… Saya sih merasa adegan itu jadi kayak tempelan. Saya sih gak akan mengkritisi tentang hal-hal teknis, ah that’s not my zone. Masih amatir saya. Saya hanya penonton awam. Hahaha. Oke, sebelum saya dihujat the film-maker, saya sih mau bilang, iya saya emang tidak bisa membuat film. Tapiii…. Yang namanya penonton kan pengennya perfect ya. Jadi kalo ada bagian yang saya kritik, ya harapannya sih kritik saya itu dijadikan sebagai wujud perhatian terhadap film itu. Toh saya sudah nonton filmnya. Eh tapi, yang menarik, film ini dibintangi oleh anak-anak asli Bojonegoro yang menurut saya aktingnya tidak buruk. Film ini bisa lah jadi tontonan kamu bareng sama keluarga kamu atau adik atau saudara-saudara yang lebih muda. Mengingat film ini sarat dengan nasionalisme. 🙂

RATES : 3 of 5 stars.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 1 =