[MOVIE REVIEW] Filosofi Kopi 2: Ben & Jody

Sekitar 2 tahun yang lalu, penonton film Indonesia diajak dua sahabat, Ben dan Jody, untuk mengenal lebih jauh tentang kopi lewat kedai mereka, Filosofi Kopi. Tahun ini Ben dan Jody kembali mengajak jalan-jalan dalam Filosofi Kopi 2: Ben & Jody.

STORYLINE :

Setelah memutuskan mengubah Filosofi Kopi menjadi sebuah mobile coffee shop, Ben dan Jody bersama tiga baristanya melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Dalam sebuah perjalanan, mereka merasa tidak bisa melanjutkan perjalanan ini lagi. Sampai akhirnya diputuskan untuk membuka kembali kedai Filosofi Kopi di Melawai. Namun masalah yang terjadi, mereka tidak sanggup untuk membayar gedung yang sudah mereka jual itu. Bertemulah mereka dengan Tara, seorang wanita cantik yang tertarik jadi investor untuk membuka kembali Filosofi Kopi. Kesepakatan kerjasama antara Ben, Jody, dan Tara pun disepakati. Namun tanpa sepengetahuan Ben, Jody merekrut seorang barista bernama Brie yang pernah melakukan peneliatan tentang kopi. Konflik pun mulai terjadi karena Ben tidak suka kalau ada barista baru yang masuk tanpa seleksi darinya, dan Jody pun ternyata merahasiakan sesuatu dari Ben. Kehadiran Tara dan Brie pun memberikan pengaruh kepada Ben dan Jody masing-masing. Bagaimana persahabatan ini akan berlanjut? Temukan jawabannya dalam film Filosofi Kopi 2: Ben & Jody.

TRAILER :

REVIEW :

Tema perjalanan atau road movie yang diangkat di bagian awal film ini, ternyata buat saya justru berlangsung dari awal hingga akhir film ini. Dan saya sangat menikmati perjalanan Ben dan Jody kali ini. Buat saya, perjalanan cerita di film ini tidak hanya tentang berpindah dari satu kota ke kota lain, atau satu tempat ke tempat lain, tapi juga perjalanan serta pengembangan karakter-karakter di film ini juga menarik dan enak diikuti. Sesuai judul filmnya, film ini tidak lagi hanya tentang Filosofi Kopi saja, tapi juga tentang dua karakter utama cerita ini, yaitu Ben dan Jody. Film ini berhasil membagi fokus cerita ke tiga hal : filkop, Ben, dan Jody. Membangun ulang dan mengembangkan kedai Filosofi Kopi diceritakan dengan baik di film ini, karakter dan Ben dan Jodi pun juga ikut berkembang berkat munculnya dua tokoh : Brie dan Tara, yang diperankan dengan baik oleh Nadine Alexandra dan Luna Maya. Secara awam, mungkin ketika melihat dua karakter cantik ini pertanyaan yang muncul adalah, “who’s with who?”. Tapi lupakan pertanyaan tadi. Lupakan pemikiran tentang ending dua karakter pria dan dua karakter wanita ini akan dengan siapa. Secara filosofis, mungkin diibaratkan kopi, It’s all about how you know and enjoy the process. Proses tentang bagaimana kopi dihasilkan dari bijinya, kemudian diproses hingga akhirnya kopi tersaji dalam sebuah gelas. Karakter-karakter di film ini juga seperti itu. Cukup nikmatilah bagaimana proses Ben dan Jody mengenal Brie dan Tara, hingga pengaruh yang diberikan Brie dan Tara terhadap Ben dan Jody. Semuanya diceritakan dengan baik dalam naskah yang ditulis oleh Jenny Jusuf dan kembali, Angga Sasongko menjadi sutradara seperti di film pertamanya. Munculnya lokasi-lokasi di film ini seperti Toraja, Lampung, Jogja, dan Jakarta juga ditampilkan dalam visual yang memanjakan mata. Filosofi Kopi 2: Ben dan Jody seolah menyadarkan kalau hidup ini bukan tentang hasil akhir saja, tapi proses dan usaha keras juga adalah juga bagian dari hidup. Saya setuju dengan kalimat yang diucapkan oleh Ben, “Setiap hal yang punya rasa, selalu punya nyawa.” Film ini akan memberikan rasa pahit dan manis, dan semuanya terasa hidup dalam film ini.

RATES : 4 of 5 stars.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 1 = 6