[MOVIE REVIEW] Aisyah Biarkan Kami Bersaudara

Sedikit flashback ke tahun lalu, sebuah film luar biasa yang sayangnya dilewatkan oleh masyarakat ketika tayang di bioskop. Kebetulan kemarin baru tayang di televisi dan saya jadi ingat belum cerita tentang film ini : Aisyah Biarkan Kami Bersaudara.

STORYLINE :

Seorang gadis Sunda, Aisyah, mendapat kesempatan untuk mengajar di daerah Dusun Derok, NTT yang bisa dibilang jauh dari jangkauan kota. Karena keinginannya yang besar untuk menjadi guru, Aisyah pun mengiyakan kesempatan tersebut. Hal ini juga jadi pelarian bagi Aisyah, karena pria yang ditaksirnya akan meninggalkannya untuk alasan yang sama, mengajar di tempat yang jauh. Sampai di Dusun Derok, rupanya terjadi kesalahpahaman. Warga setempat taunya yang akan mengajar anak-anak di tempat mereka adalah seorang katolik bernama Suster Maria. Namun karena penampilan Aisyah yang mengenakan hijab, warga mengira kalau Aisyah adalah Suster Maria. Perjuangan Aisyah untuk mengajar anak-anak pun dimulai dan rupanya ada seorang anak bernama Lordis Defam yang menolak diajar dengan Aisyah karena alasan kepercayaan. Bagaimanakah cara Aisyah meyakinkan Lordis Defam kalau dia tidak seperti yang dibayangkan? Perjuangan apa saja yang dilalui Aisyah selama berada di Dusun Derok? Temukan jawabannya dalam film Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara.

TRAILER :

REVIEW :

Saat tulisan ini dipublish, total saya sudah nonton film ini sebanyak 3 kali dan sebanyak itulah saya terharu bahkan nangis pas nontonnya. Buat saya, film ini luar biasa banget sih. Bagaimana film ini menceritakan tentang perbedaan keyakinan dengan sangat manis. Laudya Chynthia Bella juga berhasil menghidupkan sosok Aisyah yang berjuang di Dusun Derok. Bagaimana harunya saat Aisyah menjalani ibadah puasanya disana, saya juga terharu saat Aisyah harus beribadah dengan keyakinannya, bahkan saat Aisyah mau pamit untuk berlebaran saja saya terharu. Termasuk saat Aisyah membantu warga sana untuk memiliki air bersih dan bahkan membantu menyiapkan perayaan Natal disana. Di Indonesia ini banyak sekali tenaga pengajar, bahkan ada juga mereka yang dapat kesempatan untuk mengajar ke daerah-daerah pedalaman. Apalagi banyak juga universitas di Indonesia yang masih mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Harusnya film ini akan relate ke mereka. Maaf untuk membandingkan, tapi buat saya, film ini lebih bagus dibanding Laskar Pelangi. Penceritaan di film ini berjalan maju dan mulus, tanpa ada adegan flashback. Salut untuk mas Jujur Prananto untuk skenario-nya. Saya masih menyayangkan film ini tidak sukses secara komersial. Tapi untungnya, film ini sukses di berbagai ajang penghargaan film Indonesia. Beberapa penghargaan yang diraih antara sebagai Film Terbaik di ajang Usmar Ismail Awards dan Piala Maya, sebagai pemenang di kategori Skenario Terbaik oleh Jujur Prananto di ajang Usmar Ismail Awards, Festival Film Bandung, Piala Citra, dan Piala Maya, serta kategori Aktris Terbaik oleh Laudya Chynthia Bella di Indonesia Movie Actor Awards, dan banyak penghargaan lainnya. Kalau film ini dirilis di DVD, beli lah DVD nya dan tontonlah film ini. Atau kalau tayang di televisi lagi, tonton lah film ini. Dan biarkan Aisyah menceritakan kisahnya kepada Anda.

RATES : 5 of 5 stars

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

24 − = 15